Ada seorang sahabat yang bertanya kepada Nabi Muhammad SAW mengenai orang-orang yang bangkrut ketika hari kiamat:

Seperti yang diceritakan dalam sebuah hadis HR. Musilim dalam sahihnya, No. 2581 :

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu ; bahwasanya Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam bersabda : “Tahkah kalian siapa orang yang bangkrut?” lalu para sahabatpun menjawab, “Orang-orang yang bangkrut adalah orang yang tidak memiliki uang dirham maupun harta benda.”

Beliau lalu menimpali. “Sesungguhnya orang yang bangkrut dikalangan umat-Ku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Akan tetapi dia juga membawa dosa berupa perbuatan mencela, menuduh, memakan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain.

Kelak kebaikan-kebaikannya akan diberikan kepada orang yang terzalimi. Apabila amalan kebaikannya sudah habis diberikan, sementara belum selesai pembalasan tindakan kezalimannya. Maka diambillah dosa-dosa orang yang terzalimi itu, lalu diberikan kepadanya. Kemudian dia pun dicampakkan ke neraka.” HR. Muslim dalam shahihnya, no. 2581

Dari penggalan hadis tersebut hendaknya kita harus berhati-hati dengan apa-apa yang kita bicarakan. Jangan sampai kita mencela, menuduh, memakan harta dan sifat-sifat tercela lainnya yang dapat merugikan orang lain. Sehingga nantinya di akhirat kita hanya akan menjadi orang-orang yang merugi.

Walaupun kita rajin sholat, puasa, sedekah dan amalan-amalan baik lainnya. Namun jika kita melakukan hal-hal tercela yang tidak disukai Allah SWT, seperti mencela, memfitnah dan segala hal yang dapat merugikan orang lainnya. Hal tersebut dapat menggagalkan kita untuk mendapatkan tiket ke Surga. Oleh sebab itu jangan sampai nantinya ketika hari pembalasan kelak amalan-amalan kebaikan yang sudah kita peroleh hilang begitu saja akibat perbuatan-perbuatan tercela yang kita perbuat.

Lalu bagaimanakah caranya agar amal ibadah kita tidak sia-sia?

caranya yaitu amalan yang kita kerjakan harus disertai dengan keiklasan  karena Allah semata, bukan karena menginginkan pujian atau menginginkan dunia. dan kita harus tetap memiliki sifat istiqamah, karena tidak mudah bagi kita untuk mempertahanlan komitmen pada kebenaran dan terus beribadah.

Allah SWT berfirman :

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan ucapan mu akan dipertanggung jawabkan kelak di akhirat” Surat Al-Isra’ ayat 36

Mari kita untuk saling mengingatkan kembali bahwasanya pentingnya bagi kita semua untuk menjauhi sifat-sifat tercela karena hal itu akan merugikan kita di dunia dan di akhirat kelak. Sehingga hal tersebut dapat menjauhkan kita dari surga- Nya Allah SWT.

Sebaik-baik manusia adalah, manusia yang mematuhi perintah Allah dan meninggalkan seluruh larangan-Nya.

by Kurnia Azmila Putri

Editor ; Alber Andesko